![]() |
| Sumber Dokumentasi Kementerian PU |
Bendungan Argoguruh, yang kokoh membendung aliran Sungai Way
Sekampung sejak 1935, sering kali dikenang sebagai mahakarya rekayasa hidrolik
kolonial dan tumpuan lahirnya Kota Metro. Namun, di balik narasi kemajuan
teknologi dan keberhasilan agraris, fondasi bendungan ini dibangun di atas
penderitaan, keringat, dan nyawa ribuan kolonis Jawa yang tak tercatat. Sejarah
Argoguruh sejatinya adalah kronik tentang eksploitasi tenaga kerja, perjuangan
melawan alam dengan alat-alat primitif, dan ancaman wabah penyakit mematikan
yang dihadapi oleh para pionir di tanah harapan. Pembangunan ini bukanlah
proyek gotong royong yang mulia, melainkan sebuah monumen yang
merepresentasikan biaya manusia yang tersembunyi di balik ambisi efisiensi
kolonial.
Inti dari penderitaan para kolonis terletak pada sistem
kerja wajib (verplichte diensten) yang diberlakukan oleh pemerintah
Hindia Belanda. Setiap kepala keluarga yang menerima jatah tanah di Kolonisasi
Sukadana secara otomatis terikat kewajiban untuk menyumbangkan tenaganya dalam
pembangunan bendungan dan jaringan irigasi (Amboro, 2021). Kewajiban ini
bukanlah pilihan, melainkan prasyarat mutlak untuk mendapatkan hak atas tanah,
sebuah bentuk kerja paksa yang terlembagakan. Catatan sejarah menyebutkan bahwa
para kolonis diwajibkan bekerja selama dua hari dalam satu minggu untuk proyek
irigasi (Amboro, 2021).
Sistem ini menjebak mereka dalam "beban ganda"
yang luar biasa berat. Di satu sisi, mereka harus memenuhi tuntutan kerja tanpa
upah dari negara. Di sisi lain, mereka harus berjuang untuk kelangsungan hidup
keluarga mereka sendiri—membuka hutan belantara, membersihkan sisa-sisa tunggul
pohon, membangun gubuk sederhana, dan menanam tanaman pangan awal untuk
bertahan hidup sebelum sawah siap digarap (Amboro, 2021).
Penderitaan fisik ini diperparah oleh keterbatasan teknologi
yang ekstrem. Proyek raksasa ini hampir seluruhnya bergantung pada kekuatan
otot manusia. Foto-foto dari arsip kolonial memperlihatkan barisan manusia yang
bekerja dengan peralatan yang sangat sederhana, seperti cangkul, linggis, dan
tembilang (Amboro, 2021). Satu-satunya teknologi maju yang tercatat adalah
penggunaan "alat pemecah batu buatan Inggris" (Antara News, 2024).
Fakta ini menyingkap kalkulasi dingin pemerintah kolonial:
investasi modal pada mesin hanya dilakukan untuk tugas yang mustahil dikerjakan
manusia, sementara untuk semua pekerjaan lainnya, tenaga kerja
"gratis" dari para kolonis dianggap sebagai sumber daya yang melimpah
dan dapat dieksploitasi tanpa batas. Tubuh mereka, bukan mesin, yang menjadi
alat utama untuk menggali puluhan kilometer kanal dan mendirikan bendungan.
Di tengah kerja paksa dan kondisi yang serba terbatas, musuh
tak terlihat menjadi ancaman yang paling mematikan. Proses pembukaan hutan dan
pembangunan saluran irigasi secara masif menciptakan genangan-genangan air yang
menjadi surga bagi nyamuk Anopheles, vektor penyebar malaria (Kemkes,
2017). Akibatnya, wilayah Kolonisasi Sukadana dengan cepat menjadi zona
endemis, dan wabah malaria dilaporkan sulit untuk dikendalikan (Annisa, 2022).
Bagi para kolonis yang baru datang dari Jawa dan tidak memiliki imunitas,
penyakit ini menjadi ancaman eksistensial. Wabah lain seperti disentri dan
kolera juga merajalela, merenggut banyak nyawa di pemukiman-pemukiman awal yang
kumuh (Fahira & Setiawati, 2022).
Pemerintah kolonial bukannya abai terhadap krisis kesehatan ini, tapi respons mereka lebih didasari oleh pragmatisme eksploitatif daripada kemanusiaan. Menyadari bahwa wabah yang tak terkendali dapat melumpuhkan tenaga kerja dan menggagalkan seluruh proyek, mereka mendirikan fasilitas kesehatan. Pada tahun 1941, tercatat telah ada dua orang dokter di Metro, beserta 13 mantri, 80 "pembagi kinine" (petugas distributor kina), dan beberapa klinik, termasuk yang dijalankan oleh Misi Katolik (Annisa, 2022; Fahira & Setiawati, 2022).
Namun, layanan kesehatan ini dapat diinterpretasikan sebagai
modus untuk "memelihara" aset utama proyek: tubuh para pekerja.
Tujuannya bukan untuk menyejahterakan para kolonis sebagai individu, melainkan
untuk memastikan agar angkatan kerja secara kolektif tetap fungsional dan dapat
terus membangun bendungan serta mengolah sawah. Kesehatan publik menjadi
prasyarat bagi kelangsungan eksploitasi, sebuah kalkulasi dingin di mana nyawa
dihargai sejauh ia masih dapat berkontribusi pada keberhasilan proyek negara.
Pada akhirnya, di balik kemegahan Bendungan Argoguruh, tersimpan memori
penderitaan yang mendalam—sebuah warisan yang mengingatkan bahwa kemajuan yang
dipaksakan sering kali menuntut harga yang sangat mahal dari mereka yang paling
rentan. (*)

Posting Komentar